Relasi Antara Agama dan Sistem Simbol

 Agama telah kita ketahui bersama merupakan sebuah sistem keyakinan kepada wujud/kekuatan supranatural. Agama dapat juga diartikan sebagai wujud perealisasian dari sikap tunduk dan patuh manusia terhadap esensi ketuhanan atau kekuatan yang diluar kehendak manusia.

Agama memiliki beberapa unsur-unsur yaitu:

Kekuatan gaib.

Hubungan baik dengan kekuatan yang gaib. Respon manusia/emosi penganutnya.Paham akan adanya yang Kudus/disakralkan.

Sistem simbol adalah satuan yang terdiri dari beberapa elemen yang dihubungkan untuk memudahkan aliran informasi untuk mencapai tujuan. Simbol adalah penjelasan tentang gejala sosial yang tampak dibungkus dengan pola pemikiran manusia. Penjelasan tersebut berisi makna-makna dalam satu kata atau beberapa kata ataupun tindakan.Sistem simbol terdiri dari beberapa macam yaitu:

• Simbol konstitutif

Adalah penjelasan yang diterima sebagai rangkaian dogmatis yang tidak dapat dijelaskan dalam akal sehat tentang kebenaran dan ketidakbenarannya. Simbol ini sering dijelaskan tentang keyakinan keagamaan atau kepercayaan terhadap dunia 

Supranatural.

• Simbol kognitif

Adalah simbol pengetahuan yang berisi penjelasan-penjelasan dari akal sehat tentang pemanfaatan gejala dari luar diri manusia. Misalnya sesuatu yang dapat dibentuk, 

dimakan, dihindari,dll.

• Simbol penilaian

Adalah penjelasan yang bersifat dualisme dalam artian menjelaskan antara pilihan yang dapat dan tidak dapat, berguna atau tidak, baik atau tidak,dll.

• Simbol pengungkapan perasaan 

Adalah simbol yang bekerja untuk melaksanakan Keinginan atau kebutuhan seseorang agar terwujud dalam sebuah tindakan. Misalnya bahasa yang menyatakan seseorang itu marah atau sedih.

Definisi agama menurut Geertz : 1) Agama sebagai sebuah system budaya berawal dari sebuah kalimat tunggal yang sistem simbol yang bertujuan; 2) Membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, mudah menyebar dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang dengan cara; 3) Merumuskan tatanan konsepsi kehidupan yang umum; 4) Melekatkan konsepsi tersebut pada pancaran yang factual; 5) Yang pada akhirnya konsepsi tersebut akan terlihat sebagai suatu realitas yang unik.

Definisi diatas cukup menjelaskan secara runtut keseluruhan keterlibatan antara agama dan budaya. Pertama, sistem simbol adalah segala sesuatu yang membawa dan menyampaikan ide kepada seseorang. Ide dan simbol tersebut bersifat public, dalam arti bahwa meskipun masuk dalam pikiran pribadi individu, namun dapat dipegang terlepas dari otak individu yang memikirkan simbol tersebut. Kedua, agama dengan adanya simbol tadi bisa menyebabkan seseorang marasakan, melakukan atau termotivasi untuk tujuan-tujuan tertentu. 

Orang yang termotivasi tersebut akan dibimbing oleh seperangkat nilai yang penting, baik dan buruk maupun benar dan salah bagi dirinya. Ketiga, agama bisa membentuk konsep-konsep tentang tatanan seluruh eksistensi. Dalam hal ini agama terpusat pada makna final (ultimate meaning), suatu tujuan pasti bagi dunia. Keempat, konsepsi–konsepsi dan motivasi tersebut membentuk pancaran faktual yang oleh Geertz diringkas menjadi dua, yaitu agama sebagai “etos”dan agama sebagai “pandangan hidup”. Kelima, pancaran faktual tersebut akan memunculkan ritual unik yang memiliki posisi istimewa dalam tatanan tersebut, yang oleh manusia dianggap lebih penting dari apapun.

Geertz mencontohkan upacara ritual di Bali sebagai pencampuran antara etos dan pandangan dunia. Pertempuran besar antara dukun sihir Rangda dan Monster Barong aneh. Penonton terhipnotis masuk dalam tontonan tersebut dan mengambil posisi mendukung salah satu karakter, yang pada akhirnya ada beberapa yang jatuh tidak sadarkan diri. Drama tersebut bukan sekedar tontonan, melainkan kegiatan ritual yang harus diperankan. Agama di Bali begitu sangat khas dan spesifik hingga tatanan tersebut tidak bisa diubah menjadi suatu kaidah umum bagi semua agama.

Penutup:

Dari judul artikel agama dan sistem simbol dapat disimpulkan bahwa setiap simbol agama melambangkan akan kesakralan yang terkandung dalam pengimplementasian akan suatu ajarannya. Sebagaimana yang diutarakan oleh Greetz yang mencontohkan ritual keagamaan di Bali yang mempunyai makna etis dan pandangan dunia. Dan acara pementasan antara dukun sihir Rangga dan Monster Barong aneh yang membuat penonton memaknai simbol tersebut 

sebagai kesakralan. Oleh karena itu dapat juga dipastikan simbol dalam agama itu bisa disepakati dengan banyak dan sepakatnya khalayak yang mengimplementasikan akan sesuatu makna dari simbol tersebut.


Komentar